Pages

Banner 468 x 60px

 

Minggu, 22 April 2012

Penyakit ginjal kronis

0 komentar
1. Penyakit ginjal kronis
a. Definisi
Penyakit ginjal kronis (CKD, juga disebut ginjal kegagalan) adalah suatu kondisi dimana ginjal kehilangan kemampuan untuk membuang kotoran dan air berlebihan dari aliran darah. ( www.uptodate.com / pasien ).
Penyakit ginjal kronis adalah seretetan sindrom klinis yang terjadi karena fungsi ginjal mengalami gangguan (www.kidney.org).

b. Etiologi
1) Uropathy
Uropathy Obstruktif terjadi ketika air seni tidak dapat mengalir melalui ureter (tabung yang membawa air seni dari ginjal ke kandung kemih). Urin punggung atas ke ginjal dan menyebabkan menjadi bengkak.
a) Etiologi
(1) Batu saluran kemih
(2) Tumor saluran kemih
(3) Retroperitoneal fibrosis
(4) Pembesaran prostat
(5) Tumor dari organ terdekat
(6) Kanker usus
(7) Kanker serviks
(8) Kanker rahim
(9) Setiap kanker yang menyebar

b) Tanda dan gejala
Uropathy obstruktif dikelompokkan menurut apakah mempengaruhi satu atau kedua ginjal dan apakah itu terjadi tiba-tiba atau jangka panjang:
(1) Urophaty Obstruktif kronis unilateral--uropathy jangka panjang yang mempengaruhi satu ginjal
(2) Urophaty Obstruktif kronis unilateral-- uropathy jangka panjang yang mempengaruhi kedua ginjal
(3) Urophaty Obstruktif akut unilateral
(4) Urophaty Obstruktif akut bilateral
Gejala obstruktif meliputi:
1. Nyeri pinggang
2. Infeksi saluran kemih
3. Demam
4. Kesulitan atau sakit saat kencing
5. Mual atau muntah
6. Gagal ginjal
7. Berat badan atau bengkak (edema)
8. Urin menurun
9. Darah dalam urin

2) Urolithiasis
Urolithiasis mengacu pada adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Batu terbentuk di traktus urinarius ketika konsentrasi substansi tertentu seperti kalsium oksalat, kalsium fosgat, dan asam urat meningkat. Batu juga dapat terbentuk ketika terdapat defisiensi substansi tertentu, seperti sitratyang secara normal mencegah kristalisasi dalam urin. Kondisi lain yang mempengaruhi laju pembentukan batu mencakup PH urin dan status cairan pasien (batu cenderung terjadi pada pasien dehidrasi).(Brunner &suddarth, 2002:1460).
Batu dapat ditemukan disetiap bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan ukurannya bervariasi dari deposit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna orange.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu, mancakup infeksi, statis urin, status imbolitas (drainase renal yang lambat dan perubahhan metabolismekalsium).
Untuk batu yang mengandung asam urat, struvit, atau sistin, maka pemeriksaan fisik dan kerja metablik yang menyeluruh harus dilakukan berkaitan dengan gangguan yang ditimbulkan oleh batu-batu ini. Batu asam urat dapat dijumpai pada pasien gout. Batu struvit biasanya mengacu pada batu infeksi, terbentuk dalam urin kaya amonia-alkalin persisten akibat UTI kronik. Batu sistin terjadi terutama pada beberapa pasien yang mengalami defek absorbsi sistin suatu asam amino) turunan. Pembentukan batu urinarius juga dapat terjadi pada penyakit inflamasi usus dan pada individu dengan ileostomi atau reseksi usus, karena individu ini mengabsorbsi oksalat secara berlebihan. Beberapa medikasi yang diketahui menyebabkan batu pada banyak pasien mencakup antasida, diamox, vitamin D, laksatif, dan aspirasi dosis tinggi. Namun demikian banyak pasien, mungkin tidak ditemukan penyebabnya.
Batu renal terjadi terutama pada dekade ketiga atau kelima kehidupan dan lebih banyak menyerang pria dari pada wanita. Sekitar 50% pasien dengan batu ginjal tunggal akan mengalami kembali episode ini dalam waktu 10 tahun. Batu terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fospat atau oksalat. Kebanyakan batu adalah radiopaq dan dapat dideteksi melalui sinar
(1) Manifestasi klinis urolithiasis
Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu mengahmbat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter prksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam, dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit fungsional(nefron) ginjal; sedangkan yang lainnya menyebabkan nyeri luar biasa dan ketidaknyamannan.
a) Batu dipiala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus diarea kstovertebral. Hematuria dan oiuria dapat dijumpai. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara naterior dan pada wanita kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebral, dan muncul mual dan muntah, maka pasien sedang mengalamiepisode kolik renal. Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi. Gejala gastrintestinal ini akibat dari refleks renointestinal dan proksimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar.
b) Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genetalia. Pasien sering merasa ingin berkemih, namun hanya sedikit urin yang keluar, dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Kelmpok gejala ini disebut kolik ureteral. Umumnya, pasien akan mengeluarka batu dengan diameter 0,5 sampai 1 cm secara spontan. Batu dengan diameter lebih dari 1 cm biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat diangkat atau dikeluarkan secara spontan.
c) Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius, disertai sepsis yang mengancam kehidupan.

c. Patofisiologi
Batu saluran kemih merupakan hasil dari beberapa gangguan metabolisme, meskipun belum diketahui secara pasti mekanismenya. Namun beberapa teori menyebutkan diantaranya teori inti matriks, teori supersaturasi, teori presipitasi-kristalisasi, teori berkurangnya faktor penghambat. Setiap orang mensekresi kristal lewat urine setiap waktu, namun hanya kurang dari 10 % yang membentuk batu. Supersaturasi filtrat diduga sebagai faktor utama terbentuknya batu, sedangkan faktor lain yang dapat membantu yaitu keasaman dan kebasaan batu, stasis urine, konsentrasi urine, substansi lain dalam urine (seperti : pyrophospat, sitrat dll). Sedangkan materi batunya sendiri bisa terbentuk dari kalsium, phospat, oksalat, asam urat, struvit dan kristal sistin. Batu kalsium banyak dijumpai, yaitu kurang lebih 70-80 % dari seluruh batu saluran kemih, kandungan batu jenis ini terdir atas kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran dari kedua unsur itu. Batu asam urat merupakan 5-10 % dari seluruh BSK yang merupakan hasil metabolisme purine.
Batu struvit disebut juga batu infeksi karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih, kuman penyebab infeksi ini adalah kuman golongan pemecah urea atau ‘urea splitter’, yang dapat menghasilkan enzim urease dan merubah urine menjadi basa. Batu struvit biasanya mengandung magnesium, amonium dan sulfat. Batu sistin masih sangat jarang ditemui di Indonesia, berasal dari kristal sistin akibat adanya defek tubular renal yang herediter (Purnomo, 2000). Apabila karena suatu sebab, partikel pembentuk batu meningkat maka kondisi ini akan memudahkan terjadinya supersaturasi, sebagai contoh pada seseorang yang mengalami immobilisasi yang lama maka akan terjadi perpindahan kalsium dari tulang, akibatnya kadar kalsium serum akan meningkat sehingga meningkat pula yang harus dikeluarkan melalui urine. Dari sini apabila intake cairan tidak adekuat atau seseorang mengalami dehidrasi, maka supersaturasi akan terjadi dan kemungkinan terjadinya batu kalsium sangat besar. pH urine juga dapat membantu terjadinya batu atau sebaliknya, batu asam urat dan sistin cenderung terbentuk pada suasana urine yang bersifat asam, sedangkan batu struvit dan kalsium fosfat dapat terbentuk pada suasana urine basa, adapun batu kalsium oksalat tidak dipengaruhi oleh pH urine.


Batu yang berada dan terbentuk di tubuli ginjal kemudian dapat berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal (Ignatavicius, 1995). Batu yang mengisi pielum dan lebih dari dua kaliks ginjal memberikan gambaran menyerupai tanduk rusa sehingga disebut batu stoghorn (Purnomo, 2000). Batu yang besar dan menyumbat saluran kemih akan menyebabkan obstruksi sehingga menimbulkan hidronefrosis atau kaliektasis. Peningkatan tekanan akibat obstruksi menyebabkan ischemia arteri renalis diantara korteks renalis dan medulla dan terjadi pelebaran tubulus sehingga dapat menimbulkan kegagalan ginjal. Obstruksi yang tidak teratasi akan menyebabkan urin stasis yang menjadi predisposisi terjadinya infeksi sehingga menambah kerusakan ginjal yang ada.
Sebagian urin dapat mengalir kembali ke tubulus renalis masuk ke vena dan tubulus getah bening yang bekerja sebagai mekanisme kompensasi guna mencegah kerusakan ginjal. Ginjal yang tidak menderita mengambil alih eliminasi produk sisa yang banyak. Karena obstruksi yang berkepanjangan, ginjal yang tidak menderita membesar dan dapat berfungsi seefektif seperti kedua buah ginjal seperti sebelum terjadi obstruksi. Obstruksi kedua belah ginjal berdampak kepada kegagalan ginjal. Hidronefrosis bisa timbul tanpa gejala selama ginjal berfungsi adekuat dan urin masih bisa mengalir. Adanya obstruksi dan infeksi akan menimbulkan nyeri koliks, nyeri tumpul (dull pain), mual, muntah dan perkembangan hidronefrosis yang berlangsung lamban dapat menimbulkan nyeri ketok pada pinggang. Kadang-kadang dijumpai hematuri akibat kerusakan epitel.

Batu yang keluar dari pelvis ginjal dapat menyumbat ureter yang akan menimbulkan rasa nyeri kolik pada pinggir abdomen, rasa nyeri bisa menjalar ke daerah genetalia dan paha yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas kegiatan peristaltik dari otot polos pada ureter yang berusaha melepaskan obstruksi dan mendorong urin untuk berlalu. Mual dan muntah seringkali menyertai obstruksi ureter akut disebabkan oleh reaksi reflek terhadap nyeri dan biasanya dapat diredakan setelah nyeri mereda. Ginjal yang berdilatasi besar dapat mendesak lambung dan menyebabkan gejala gastrointestinal yang berkesinambungan. Bila fungsi ginjal sangat terganggu, mual dan muntah merupakan ancaman gajala uremia. Karena adanya sumbatan atau obstruksi pada ureter maka fungsi ginjal untuk membuang sisa-sisa metabolism terhambat sehingga mengakibatkan fungsi ginjal berkurang dan akan mengakibatkan penyakit ginjal kronik.
d. Tanda dan gejala penyakit ginjal kronis
1) Sering buang air kecil , terutama di malam hari (nokturia);
2) Pembengkakan pada kaki dan bengkak di sekitar mata (retensi cairan);
3) Tekanan darah tinggi;
4) Kelelahan dan kelemahan (dari anemia atau akumulasi dari produk sisa di dalam tubuh);
5) Hilangnya nafsu makan, mual dan muntah ;
6) Gatal, mudah memar, dan kulit pucat (anemia);
7) Sesak napas dari akumulasi cairan di paru-paru;
8) Mati rasa pada kaki atau tangan (neuropati perifer), tidur terganggu , diubah status mental ( ensefalopati dari akumulasi produk limbah atau racun uremic), dan sindrom kaki gelisah ;
9) Dada nyeri akibat perikarditis (peradangan di sekitar jantung);
10) Pendarahan (karena miskin pembekuan darah);
11) Rasa sakit dan patah tulang, dan
12) Penurunan minat seksual dan disfungsi ereksi

e. Dampak masalah struktur/pola fungsi system tubuh
Sebagai penyakit ginjal kronis (CKD) berlangsung, komplikasi berikut dapat mengembangkan:
1) Sistem urinaria : perubahan pola berkemih
2) Sistem pencernaan : mual, muntah diare
3) Obstruksi Ginjal
4) Perdarahan
5) Infeksi
6) Hidronefrosis
7) ESRD
f. Pemeriksaan diagnostik
(a) Ranilogi
Di tunjukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi.
(b) Foto polos abdomen
Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi akan memperburuk fungsi ginjal. Menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau bstruksi lain. Fto polos disertai tomogram memberi keterangan yang lebih baik.
(c) USG ginjal
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi sistem pelviokalises dan ureter proximal, kandung kemih serta prostat. Selain itu dapat menunjukan ukuran kandung kemih, dan adanya massa, kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
(d) Renogram
Menilai fungsi ginjal kiri dan kanan, lokasi gangguan
(e) Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan urine (volume, warna, sedimen, berat, jenis, kreatinin, protein).
2) Pemeriksaan darah rutin (BUN/kreatinin, hitung darah lengkap, sel darah merah, natrium serum, kalium, magnesium fosfat, protein, osmolaritas serum).




g. Penatalaksanaan.
Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefrn, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obtruksi yang terjadi.
1. Therapi
a) Pengurangan nyeri. Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk mengurangi nyerisampai penyebabnyadapat dihilangkan. Morfin atau meperiden diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air panas atau air hangat di area panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrstatik pada ruang di belakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari mengurangi knsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjaminhaluaran urin yang besar.

b) Terapi nutrisi dan medikasi terapi nutrisi berperan penting dalam mencegah batu renal. Masukan cairan yang adekuat dan menghindari makanan tertentu dalam diet yang merupakan bahan utama pembentuk batu efektif untuk mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien batu renal harus minum paling sedikit 8 gelas air sehari untuk mempertahankan urin encer, kecuali dikontraindikasikan.

2. pembedahan
a) Pelarutan batu. Infus cairan kemolitik pembuat basa dan pembuat asam untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternatif penanganan untuk pasien kurang beresik terhadap terapi lain, dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu mudah larut. Nefrostomi perkuatan dilakukan, dan cairan pengirigasi yang hangat dialirkan secara terus menerus ke batu. Cairan pengirigasi memasuki duktus klektikus ginjal melalui ureter atau selang nefrostomi. Tekanan didalam piala ginjal dipantau selam prosedur.

b) Pembedahan nefrostomi Selang nefrostomi dimasukkan langsung ke dalam ginjal untuk pengalihan aliran urin temporer atau permanen secara percutan atau melalui luka insisi. Sebuah selang tunggal atau selang nefrostomi sirkuler atau U-loop yang dapat tertahan sendiri dapat digunakan. Drainase nefrostomi diperlukan utuk drainase cairan dari ginjal sesudah pembedahan, memelihara atau memulihkan drainase dan memintas obstruksi dalam ureter atau traktus urinarius inferior. Selang nefrostomi dihubungkan ke sebuah system drainase tertutup atau alat uostomi.


h. Diet
Diet memainkan peran penting dalam mencegah penyakit ginjal kronis (CKD). Sebuah diet yang sehat akan menurunkan jumlah kolesterol dalam darah Anda dan menjaga tekanan darah pada tingkat yang sehat.

Hindari makan makanan yang tinggi lemak jenuh karena ini akan meningkatkan kadar kolesterol
sosis Makanan yang tinggi lemak jenuh meliputi:
1. daging
2. dan potongan daging lemak
3. mentega
4. jenis mentega yang sering digunakan dalam masakan India
5. lemak babi
6. krim
7. keju keras
8. kue dan biskuit
9. makanan yang mengandung kelapa, atau kelapa sawit
Makan beberapa makanan yang tinggi lemak tak jenuh dapat membantu menurunkan kadar kolesterol .
Makanan yang tinggi lemak tak jenuh meliputi:
1. ikan berminyak
2. alpukat
3. kacang-kacangan dan biji
4. bunga matahari
5. minyak zaitun




C. konsep asuhan keperawatan
Proses keperawatan meliputi lima tahap yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksannan dan evaluasi.
a. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Lyer et al, 1986). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu yang meliputi :
Pengumpulan data
(a) Identitas penderita
Meliputi nama, umur (penyakit BSK paling sering didapatkan pada usia 30 sampai 50 tahun), jenis kelamin (BSK banyak ditemukan pada pria dengan perbandingan 3 kali lebih banyak dari wanita), alamat, agama/kepercayaan, pendidikan, suku/bangsa (beberapa daerah menunjukkan angka kejadian BSK yang lebih tinggi dari daerah lain), pekerjaan (BSK sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life) (Purnomo, 2000).
(b) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama yang sering terjadi pada klien batu ginjal adalah nyeri pinggang akibat adanya batu pada ginjal, berat ringannya nyeri tergantung lokasi dan besarnya batu, dapat pula terjadi nyeri kolik/kolik renal yang menjalar ke testis pada pria dan kandung kemih pada wanita. Klien dapat juga mengalami gangguan saluran gastrointestinal dan perubahan dalam eliminasi urine (Ignatavicius, 1995).
(c) Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin berhubungan dengan BSK, antara lain infeksi saaluran kemih, hiperparatiroidisme, penyakit inflamasi usus, gout, keadaan-keadaan yang mengakibatkan hiperkalsemia, immobilisasi lama dan dehidrasi (Carpenito, 1995).
(d) Riwayat penyakit keluarga
Beberapa penyakit atau kelainan yang sifatnya herediter dapat menjadi penyebab terjadinya batu ginjal antara lain riwayat keluarga dengan renal tubular acidosis (RTA), cystinuria, Xanthinuria dan dehidroxynadeninuria (Munver & Preminger, 2001).
(e) Riwayat psikososial
Klien dapat mengalami masalah kecemasan tentang kondisi yang dialami, juga berkenaan dengan rasa nyeri, dapat juga mengekspresikan masalah tentang kekambuhan dan dampak pada pekerjaan serta aktifitas harian lainnya (Engram, 1998).

(f) Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Klien biasanya tinggal pada lingkungan dengan temperatur panas dan lingkungan dengan kadar mineral kalsium yang tinggi pada air (Purnomo, 1999). Terdapat riwayat penggunaan alkohol, obat-obatan seperti antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinol dan sebagainya. Aktifitas olah raga biasanya tidak pernah dilakukan (Doenges, 1999).

2) Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya asupan dengan diet tinggi purin, kalsium oksalat dan fosfat. Terdapat juga ketidakcukupan intake cairan. Klien BSK dapat mengalami mual/muntah, nyeri tekan abdomen (Doenges, 1999).
3) Pola eliminasi
Pada klien BSK terdapat riwayat adanya ISK kronis, adanya obstruksi sebelumnya sehingga dapat mengalami penurunan haluaran urine, kandung kemih terasa penuh, rasa terbakar saat berkemih, sering berkemih dan adanya diare (Doenges, 1999).
4) Pola istirahat - tidur
Klien BSK dapat mengalami gangguan pola tidur apabila nyeri timbul pada malam hari atau saat istirahat (Marsorie & Susan, 1984).
5) Pola aktifitas
Adanya riwayat keterbatasan aktifitas, pekerjaan monoton ataupun immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (contoh penyakit tak sembuh, cedera medulla spinalis) (Doenges, 1999).
6) Pola hubungan dan peran
Didapatkan riwayat klien tentang peran dalam keluarga dan masyarakat, interaksi dengan keluarga dan orang lain serta hubungan kerja, adakah perubahan atau gangguan (Carpenito, 1999).



7) Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat melaporkan adanya perasaan gugup atau kecemasan yang dirasakan sebagai akibat kurangnya pengetahuan tentang kondisi, diagnosa dan tindakan/operasi (Engram, 1998).
8) Pola kognitif-peseptual
Didapatkan adanya keluhan nyeri, nyeri dapat akut ataupun kolik tergantung lokasi batu (Doenges, 1999).

9) Pola reproduksi seksual
Dikaji tentang pengetahuan fungsi seksual, adakah perubahan dalam hubungan seksual karena perubahan kondisi yang dialami (Engram, 1998).
10) Pola koping dan penanganan stress
Dikaji tentang mekanisme klien terhadap stress, penyebab stress yang mungkin diketahui, bagaimana mengambil keputusan (Carpenito, 1999).
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana praktik religius klien (type, frekwensi), dengan apa (siapa) klien mendapat sumber kekuatan atau makna (Carpenito, 1999).


(g) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada klien dengan kasus urologi atau penyakit ginjal dilakukan berdasarkan data/informasi yang diperoleh saat melakukan pengkajian tentang riwayat penyakit. Pemeriksaan meliputi sistem urinari disertai review sistem yang lain dan status umum.
1) Keadaan umum
Meliputi tingkat kesadaran, ada tidaknya defisit konsentrasi, tingkat kelemahan (keadaan penyakit) dan ada tidaknya perubahan berat badan (Black, l993). Tanda vital dapat meningkat menyertai nyeri, suhu dan nadi meningkat mungkin karena infeksi serta tekanan darah dapat turun apabila nyeri sampai mengakibatkan shock (Ignatavicius, l995).
2) Ginjal, ureter, buli-buli dan uretra
Pemeriksaan ini dilakukan bersama dengan pemeriksaan abdomen yang lain dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Inspeksi : dengan posisi duduk atau supine dilihat adanya pembesaran di daerah pinggang atau abdomen sebelah atas; asimetris ataukah adanya perubahan warna kulit. Pembesaran pada daerah ini dapat disebabkan karena hidronefrosis atau tumor pada retroperitonium.
Auscultasi : dengan menggunakan belt dari stetoskop di atas aorta atau arteri renal untuk memeriksa adanya ‘bruit’. Adanya bruit di atas arteri renal dapat disebabkan oleh gangguan aliran pada pembuluh darah seperti stenosis atau aneurisma arteri renal.
Palpasi : palpasi pada ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai dua tangan, tangan kiri diletakkan di sudut kosta-vertebra untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba dari depan dengan sedikit menekan ke bawah (pada ginjal kanan), bagian bawah dapat teraba pada orang yang kurus. Adanya pembesaran pada ginjal seperti tumor, kista atau hidronefrosis biasa teraba dan terasa nyeri. Ureter tidak dapat dipalpasi, tetapi bila terjadi spasme pada otot-ototnya akan menghasilkan nyeri pada pinggang atau perut bagian bawah, menjalar ke skrotum atau labia. Adanya distensi buli-buli akan teraba pada area di atas simphisis atau setinggi umbilikus, yang disebabkan adanya obstruksi pada leher buli-buli.
Perkusi : dengan memberikan ketokan pada sudut kostavertebra, adanya pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal akan terasa nyeri ketok. Pada buli-buli diketahui adanya distensi karena retensi urine dan terdengar redup, dapat diketahui batas atas buli-buli serta adanya tumor/massa.
Inspeksi pada daerah meatus dan sekitarnya, diketahui adanya discharge; darah; mukus atau drainase purulen. Kulit dan membran mukosa dilihat adanya lesi, rash atau kelainan pada penis atau scrotum; labia atau vagina. Iritasi pada uretra biasanya dilaporkan dengan adanya rasa tidak nyaman saat klien miksi.
3) Sistem integumen
Diperiksa adanya perubahan warna; pucat dapat menandakan adanya anemia defisiensi erythropoetin, kuning kemungkinan karena adanya deposit carotene – like substance akibat kegagalan ekskresi ginjal. Kulit kering dapat mengindikasikan adanya gagal ginjal kronik atau kekurangan cairan, adanya ptekie menandakan adanya perdarahan, adanya deposit kristal pada kulit merupakan tanda kegagalan ginjal yang berlangsung lama (Black, l993).
4) Sistem respirasi
Dalam beberapa keadaaan, kualitas pernafasan menggambarkan status cairan klien atau keseimbangan asam basa. Pada gagal ginjal pernafasan mungkin berbau urine atau 'fruit-flavored gum' yang menandakan adanya tosin dalam darah (Black, 1993).
5) Sistem kardiovaskuler
Pemantauan sistem kardiovaskuler dapat digunakan untuk mengetahui status keseimbangan cairan dan elektrolit dan yang spesifik dengan urinary tract adalah pemeriksaan tekanan darah. Hipertensi dapat ditemukan pada beberapa penyakit ginjal dan mungkin adanya overload cairan atau gangguan sistem renin-angiotensin (Black, 1993).
6) Sistem muskuloskeletal
Diperiksa pergerakan klien selama pemeriksaan untuk menentukan tonus otot tubuh secara keseluruhan dan menentukan kemampuan fisik klien mengontrol eliminasi urine, otot yang spesifik pada proses ini adalah otot perineal dan abdomen. Klien dianjurkan untuk mengencangkan (kontraksi) otot tersebut yang dapat diketahui dengan cara palpasi (Black, 1993).


7) Sistem neurologi
Disfungsi ginjal dapat berpengaruh pada sistem persyarafan. Pada gagal ginjal kronik peningkatan kalsium akan menyebabkan tetani, penurunan kalsium akan menyebabkan kelemahan atau penumpukan toksin. Karena spinkter ani dan spinkter urinari berasal dari cabang persyarafan yang sama maka pada pemeriksaan bila salah satu utuh maka spinkter yang lain juga demikian. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan memasukan jari ke dalam anus, jari akan terasa terjepit pada saat diberikan rangsangan nyeri pada penis akibat berkontraksinya spinkter ani eksterna dan otot bulbokavernosa, hal ini menandakan reflek pada S2 dan S4 intak (Black, 1993).
(h) Pemeriksaan diagnostik
1) Urinalisa : warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah; secara umum menunjukkan SDM, SDP, kristal (sistin, asam urat, kalsium oksalat), serpihan, mineral, bakteri, pus; pH mungkin asam (meningkatkan magnesium, fosfat amonium atau batu kalsium fosfat).
2) Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau sistin mungkin meningkat.
3) Kultur urine : mungkin menunjukkan ISK (Staphilococcus aureus, proteus, klebseila, pseudomonas).
4) Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat, fosfat, protein, elektrolit.
5) BUN/kreatinin serum dan urine : abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
6) Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan penurunan kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus ginjal.
7) Hitung darah lengkap : SDP mungkin meningkat menunjukkan infeksi/septikemia.
8) SDM : biasanya normal
9) Hb/Ht : abnormal bila klien dehidrasi berat atau polisitemia terjadi (mendorong presipitasi pemadatan) atau anemia (perdarahan, disfungsi/gagal ginjal).
10) Hormon paratiroid : mungkin meningkat jika ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorpsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine).
11) Foto ronsen KUB : menunjukkan adanya kalkuli dan atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter.
12) IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli.
13) Sistouterkopi : visualisasi langsung kandung kemih dapat menunjukkan batu dan atau efek obstruksi (Doenges, 1999).


b. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul antara lain:

(a) Nyeri berhubungan dengan meningkatnya kontraksi ureter, trauma jaringan, terbentuknya edema.
(b) Gangguan Pola eliminasi BAK berhubungan dengan iritasi ginjal atau ureter, obstruksi mekanik, implamasi, stimulasi kandung kencing oleh batu.
(c) Resiko defisit cairan berhubungan dengan neusea, muntah
(d) Kurang pengetahuan berhubungan dengan impormasi yg salah.


a) Rencana asuhan keperawatan
(1) nyeri berhubungan dengan meningkatnya kontraksi ureter, trauma jaringan, terbentuknya edema.
Tujuan : Rasa nyaman nyeri teratasi.
Intervensi
(a) Amati & catat lokasi, durasi, intensitas penyebaran nyeri.
(b) Jelaskan penyebab nyeri.
(c) Lakukan gate kontrol pada punggung.
(d) Ajarkan teknik relaksasi.
(e) Beri intake cairan 3000 ml – 4000 ml / hari.
(f) Kolaborasi pemberian obat-obatan.





(2) Gangguan Pola eliminasi BAK berhubungan dengan iritasi ginjal atau ureter, obstruksi mekanik, implamasi, stimulasi kandung kencing oleh batu.
Tujuan : Gangguan pola eliminasi teratasi.
Intervensi

(a) Monitor intake / out put.
(b) Amati BAK
(c) Siapkan urine laboratorium.
(d) Observasi keadaan kandung kemih.
(e) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium.

(3) Resiko defisit cairan berhubungan dengan neusea, muntah.
Tujuan : Tidak terjadi defisit cairan.
Intervensi
(a) Amati dan catat kelainan spt muntah.
(b) Monitor tanda vital.
(c) Beri diet sesuai program.
(d) Kolaborasi pemberian cairan intra vena

(4) Kurang pengetahuan berhubungan dengan impormasi yg salah.
Tujuan : Klien akan membuka diri meminta informasi.
Intervensi
(a) Beri penjelasan tentang proses penyakitnya.
(b) Jelaskan pentingnya intake cairan 3000 – 4000 ml/hr.
(c) Jelaskan tentang pengaturan diet.
(d) Diskusikan bersama klien/keluarganya tentang aturan Terapih & jenis makanan.
(e) Anjurkan klien melakukan aktivitas secara teratur

Sumber : dari berbagai sumber

0 komentar:

Poskan Komentar